TINS Targetkan Smelter Tanah Jarang Rampung 2019

Kalau tak ada aral melintang, penantian panjang PT Timah Tbk untuk memproduksi mineral logam tanah jarang (rare earth), bakal berakhir pada tahun depan. Perusahaan yang menjadi bagian dari Holding BUMN Tambang tersebut merencanakan, pembangunan smelter mineral ta- nah jarang selesai pada tahun 2019. Dari hasil pengujian PT Timah, konstruksi dasar smelter berupa instalasi teknologi pemrosesan dan luas lahan di Tanjung Ular, Bangka, sudah memenuhi syarat. “Apabila potensi sumber daya dan pengkajian masalah kelayakan skala ekonominya cepat, mungkin akhir tahun depan sudah bisa selesai,” ujar Emil Erminda, Direktur Keuangan PT Timah Tbk, Senin (24/9). Sebelum sampai pada kesimpulan tentang kelayakan lokasi, sekitar 10 tahun yang silam PT Timah memulai penelitian mineral tanah jarang.

Kemudian tiga tahun belakangan, perusahaan berkode saham TINS di Bursa Efek Indonesia tersebut membangun pabrik pengolahan tanah jarang dalam skala kecil. Fungsi pabrik skala kecil tersebut tak ubahnya laboratorium produksi rare earth element (REE). PT Timah melakukan penelitian teknis proses pengolahan di laboratorium tersebut.

Sementara mengintip catatan dari beberapa media, smelter mineral tanah jarang yang akan dioperasikan oleh PT Timah nanti, berkapasitas produksi 500 ton per tahun. Luas area smelter 110 hektare (ha) sedangkan biaya investasinya mencapai Rp 100 miliar. Menurut hasil penelitian PT Timah, mineral tanah jarang bermafaat untuk bahan baku pembuatan komponen elektronik. Mulai dari layar LCD untuk televisi, layar komputer dan telepon pintar. Makanya, perusahaan itu membidik ke negara-negara industri elektronik seperti Jepang dan Korea sebagai tujuan pemasaran kelak. Selain itu, mineral tanah jarang ini juga bisa menghasilkan thorium. Thorium adalah bahan baku nuklir seperti urainium tapi dengan tingkat radiasi lebih rendah. Thorim juga bisa menjadi salah satu penghasil energi listrik. Tak heran jika harga jual mineral tanah jarang menggiurkan.

Manajemen PT Timah memperkirakan, harga jualnya di pasar saat ini mencapai US$ 70.000 per metrik ton atau sekitar tiga kali lipat lebih mahal ketimbang harga timah. Namun perlu dicatat, kendala proyek smelter tanah jarang tak cuma perkara butuh penelitian panjang. Potensi kandungan thorium dalam mineral tanah jarang tadi, menyebabkan proses jual-belinya harus mendapatkan izin dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). “Jadi secara umum dapat dikatakan kami masih terkendala soal perizinan mengingat mineral ini juga dapat dijadikan bahan baku nuklir sehingga butuh perizinan sampai pengawasan khu- sus,” beber Emil. Kendala lain mengenai keekonomian produksi. Hingga kini PT Timah masih mencari metodologi yang sesuai demi menghasilkan produk bernilai ekonomi yang besar. Mereka mengaku, saat ini kandungan REE sudah mencapai sekitar 2%-5% dari 100% bijih timah.