Dibalik Kesuksesan PT Adira Dinamika Multifinance

Minat yang tinggi pada bidang akuntansi sejak masih remaja, membawa Hafid Hadeli fokus mengarahkan kariernya pada bidang keuangan. Hasilnya, dia mampu mencapai puncak karier dalam bidang keuangan setelah meniti lebih dari 30 tahun. Sejak tahun lalu, Hafid menjadi orang nomor satu di Adira Finance. Inilah kisahnya.

Dibalik Kesuksesan PT Adira Dinamika Multifinance

Kata orang, masa remaja adalah fase di mana seseorang mulai mencari identitas tentang dirinya. Itulah sebabnya, masa remaja dianggap sebagai masa labil di fase kehidupan seseorang. Namun, di masa itu pula, masa depan ditentukan. Hafid Hadeli, Presiden Direktur PT Adira Dinamika Multi? nance Tbk atau Adira Finance, sedikit banyak telah membuktikan hal tersebut. Sebab menurutnya, pilihan karier yang dijalaninya selama ini, diawali dari passion atau minat yang dimilikinya sejak remaja. Berbeda dengan temanteman seusianya dahulu yang tertarik pada bidang seni, musik, ataupun olahraga, Ha? d sejak duduk di bangku SMA adalah orang yang menggemari pelajaran akuntansi. Hal itulah yang mempengaruhi karier profesionalnya dalam bidang keuangan selama ini.

Saat berbincang dengan media beberapa waktu lalu, Hafid mengaku tertarik bidang akuntansi karena berhubungan dengan banyak angka. “Ketertarikan ini berlanjut hingga kuliah dan bahkan sebelum lulus kuliah, saya sudah bekerja di kantor akuntan publik,” ungkapnya.

Hafid mengaku sudah merintis karier profesionalnya sejak tahun ketiga di bangku kuliah. Ha? d ketika itu, masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Trisakti angkatan tahun 1982. Di tahun ketiganya atau pada 1985, ia memutuskan untuk bergabung sebagai full time auditor di kantor akuntan publik (KAP) Arthur Andersen & Co. Perusahaan KAP yang kini melebur dengan KAP Ernst & Young (EY) tersebut merupakan jajaran lima besar KAP pada masanya. Hanya saja, Ha? d bilang ada sedikit kekeliruan yang dilakukannya saat bekerja sambil kuliah.

Dia mengaku sedikit terlena dan akhirnya malah lebih asyik bekerja sehingga kuliahnya jadi ketinggalan. “Jadi pembuatan skripsi agak terbengkalai dan telat. Saya lulus kuliah sekitar tahun 1989,” kata Hafid. Setelah tiga tahun menimba pengalaman di KAP, ia kemudian direkrut masuk kelompok elite perbankan oleh Citibank pada tahun 1988. Pertama kali bekerja di Citibank, Hafid bergabung di bagian keuangan, sama seperti yang diinginkannya selama ini. Setelah di bagian keuangan, ia sempat dirolling ke bagian pemasaran dan manajemen risiko.

“Pengalaman saya paling lama sebelum bergabung dengan Adira adalah di Citibank. Saya di sana sampai tahun 2001, terakhir posisinya Vice President. Saat di Citibank ini saya belajar banyak soal bisnis di berbagai sektor industri,” ungkap Hafid. Setelah dari Citibank, Hafid kemudian bergabung dengan Bank Lippo pada tahun 2001 sebagai Wakil Direktur Utama. Setahun bergabung dengan Bank Lippo, di tahun 2002, ia lanjut berpindah ke PT Broadband Multimedia Tbk atau yang dikenal dengan First Media.

Di perusahaan itu dia menduduki posisi sebagai direktur. Selama tiga tahun Hafid bergabung dengan First Media, atau tahun 2006. Lalu akhirnya pada tahun 2006, ia resmi bergabung dengan Adira Finance sebagai Direktur Keuangan dan didapuk menjadi Presiden Direktur sejak Mei 2017. Perjalanan karier pria kelahiran tahun 1963 ini memang cukup panjang dan berliku. Namun, jalur yang dipilih Hafid berhasil menghantarkan pada posisi puncak saat ini.

Baginya, hal yang paling menarik dalam perjalanan kariernya bukan hanya soal berpindah perusahaan, tapi juga banyak ilmu orang lain yang berpindah pada dirinya. “Memang dasar saya di keuangan. Sejak saya jadi auditor dan bergabung dengan Citibank, saya pegang bagian keuangan, jadi seolaholah merasa paling pintar sendiri,” ujarnya.

Saat pindah ke bagian pemasaran dan manajemen risiko, dia belajar bahwa di luar sana masih banyak ilmu lain yang berbeda. Mulai saat itu, dia merasa harus berpindah-pindah bagian karena semakin banyak ilmu yang dipelajari dan dikuasai, semakin bermanfaat.

“Bermanfaat kalau suatu hari, saya jadi pimpinan (perusahaan), saat itu pikiran saya seperti itu,” jelasnya. Menurut pria kelahiran Jakarta ini, dalam memutuskan siapa yang menjadi pimpinan, hanya ada dua pilihan. Pertama, mencari pimpinan yang ahli atau spesialis di suatu bidang (ekspertis). Kedua, adalah mencari seorang pimpinan yang memiliki banyak pengalaman di sektor bisnis yang berbeda. Ha? d memilih jalur kedua, yaitu pemimpin dengan bekal pengalaman di sektor bisnis yang berbeda-beda. Baginya, hal itu telah menjadi motivasi untuk menguasai banyak ilmu. Bisa belajar berbagai ilmu pada industri yang berbeda-beda, juga yang membuat Hafid tertarik bergabung dengan Citibank sebelum bergabung dengan Adira Finance.

Ia mengatakan, dengan menjadi seorang bankir, ia bisa belajar berbagai industri karena bank memberi jasa ke semua industri. “Menurut saya, sampai saat ini, perbankan adalah sektor yang menarik dan prestisius. Industri yang sudah mapan dan maju. Ada segala macam sektor yang saya pelajari saat jadi bankir,” tuturnya. Sedangkan ketertarikan bergabung dengan Adira Finance karena posisi yang saat itu ditawarkan sesuai dengan passion Hafid di bidang keuangan. Apalagi ada beberapa perbedaan yang dirasakan Ha? d, baik dari segi kultur perusahaan sampai soal sektor dan skala bisnisnya. Adira secara sektor berbeda, secara bisnis juga berbeda. Kalau dulu saat jadi bankir, pasar bisnisnya banyak ke perusahaanperusahaan besar. Maka, Adira ini pasar bisnisnya lebih banyak ke kalangan menengah ke bawah. Alhasil, ia pun banyak menyesuaikan diri dengan kultur konsumen Adira Finance.